25 Nopember adalah Hari Guru



Rabu, 30 September 2015

Pembelajaran di Balik Tewasnya Siswa SD

Dunia pendidikan kembali diterpa kabar yang tidak sedap setelah terdengar kabar meninggalnya dua orang siswa disaat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar di sekolahnya.
Gabriella Sheryl Howard, 8 tahun adalah siswa kelas III, Global Sevilla School, Kembangan, Jakarta Barat, dikabarkan meninggal karena tenggelam di kolam renang sekolahnya ketika mengikuti pelajaran renang ,Kamis 17 September 2015 (tempo.co 19/9/2015).
Noor Anggra Ardiansyah , 8 tahun siswa SDN Kebayoran Lama Jakarta Selatan ,yang meninggal setelah dipukul dan ditendang oleh  temannya, R, 8 tahun ketika sedang mengikuti lomba melukis di halaman sekolahnya, Jum’at 18 September 2015 (kabar petang TV One 19/9/2015).
Ada kesamaan dari dua kasus di atas yaitu sama-sama berusia 8 tahun dan kejadian sama-sama di sekolah yang menerapkan disiplin yang ketat, sama-sama di pusat Ibu kota dan sama sama pada saat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar di sekolahnya.
Berbagai pertanyaanpun muncul, kemana gurunya? Dimana gurunya? Dimana kepala sekolahnya? Ditambah lagi dengan komentar-komentar pedaspun terus mengalir di media sosial, dan sudah barang tentu komentar negatif paling banyak ditujukan kepada lembaga pendidikan terutama guru.  Bahkan ada yang dikaitkan karena gurunya ikut demo, padahal kejadian bukan ketika guru ikut demo dan belum tentu guru di sekolah tersebut ikut demo.
Sebagai pendidik, tentunya sangat terpukul, ikut sedih, dan ikut berduka  mendengar berita tersebut. Semoga orang tua yang ditinggalkan anak tercintanya diberi ketabahan dan mau menerima kenyataan bahwa kejadian ini tidak dikehendaki siapapun baik pihak sekolah terlebih lagi orang tua. Kalau dilihat sekolah dimana kejadian tersebut terjadi bukanlah sekolah pinggiran yang gurunya kurang, fasilitasnya kurang, tidak punya pagar, tidak punya penjaga apalagi CCTV. Melainkan sekolah yang menurut kabar menerapkan disiplin yang ketat baik kepada siswa mapun gurunya.
Di sekolah tersebut ada piket umum (yang bertugas mencatat siswa dan guru yang tidak masuk) dan ada piket khusus (yang mengawasi ketika siswa istirahat) tetapi kejadian yang tidak diinginkan masih tetap terjadi, ibarat peribahasa sepandai-pandai tupai melompat bisa jatuh juga. Mungkin inilah yang namanya musibah, kendati begitu sekolah harus tetap mengevaluasi dan jadikan pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang dikemudian hari.
Nur Anggrah Adriansyah  dan Gabriella Sheryl Howard sudah meninggal, dan terjadi ketika mengikuti kegiatan proses belajar mengajar disekolah. Walaupun kejadianya di sekolah,  kita belum tahu penyebab pasti kematianya apa? Dan kita berharap bukan karena kelalaian gurunya, dan untuk pastinya biarlah pihak berwajib menuntaskan proses hukumnya. Jadikanlah kedua kejadian tersebut bagi lembaga pendidikan, orang tua dan masyarakat sebagai pembelajaran.
1.Pembelajaran  bagi pihak sekolah
Setelah melihat kejadian ini sebaiknya semua sekolah baik di SD, SMP dan SMA agar  Kepala Sekolah, guru dan komite sekolah duduk bersama untuk mengevaluasi kegiatan proses belajar mengajar di sekolahnya agar tidak menimbulkan masalah yang merugikan siswa apalagi sampai meninggal karena selama siswa di sekolah  tanggungjawab ada di pihak sekolah.
Tugas guru bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik seperti yang tercantum dalam PP 74 2008 BAB I Pasal 1, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Diperkuat lagi dengan Permendiknas No 15 Tahun 2010  disebutkan bahwa setiap guru tetap bekerja 37,5 jam per minggu di satuan pendidikan, termasuk merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing atau melatih peserta didik, dan melaksanakan tugas tambahan.
Guru hasus lebih waspada karena selama ini beranggapan kejadian bisa terjadi ketika guru tidak mengajar karena izin atau sakit atau tanpa keterangan, sehingga jam menjadi kosong,  tetapi ini justru terjadi ketika proses belajar mengajar dan gurunya berada tidak jauh dari mereka seperti yang terjadi pada Gabriella Sheryl Howard. Demikian juga yang terjadi dengan Noor Anggra Adriansyah itupun terjadi pada saat proses belajar mengajar dengan menggunakan metode karya wisata. Anak tersebut dipukul kemudian jatuh ke lantai sebagai akibat di olok-olok yang mungkin sudah berkali-kali dan akhirnya sampai pada batas kesabaranya kemudian amarahnya meledak dan terjadilah pemukulan tersebut.
Ada kebiasaan siswa SD yaitu saling mengejek. Jadi guru harus tahu siapa anak yang suka mengejek anak lain. Menurut Sani Hermawan (psikolog) dalam dialog di TV One 19/9/2015: “bahwa setiap anak memiliki tombol hot bottom yang kalau dipencet, emosi anak akan naik sehingga akan keluar energi yang sangat besar dan sulit untuk dikendalikan, bahkan hal ini bisa terjadi pada anak usia 8 tahun. Ketika emosi meledak rasio atau logika tidak berfungsi  sehingga energi yang keluar menjadi tidak terkontrol karena mungkin sudah beberapa kali di ejek”.
Permasalahan seperti itu tentunya bisa diantisipasi oleh pihak pendidik dengan menampung dan menyelesaikan setiap pengaduan dengan merahasiakan identitas pengadu. Karena terkadang tidak semua anak berani melapor gurunya karena mungkin ada yang mengancam jika dia berani melapor.
Anak yang agresif cendrung untuk melakukan tindakan kekerasan.  Anak yang diam yang sulit berbicara atau sulit mengekpresikan perasaanya itu juga bisa bertindak agresif ketika amarahnya meledak. Tindakan prepentifnya adalah dengan anak dilatih untuk keterampilan sosialnya dengan sering berdiskusi dalam proses belajar mengajarnya.
2.Pembelajaran bagi orang tua
Berdasarkan data dari  komnas perlindungan anak pelaku kekerasan  yang dilakukan oleh anak meningkat dari 10% ke 20% direntang usis 6 tahun s.d 14 tahun untuk tahun 2015. Orang tua harus sadar harus berbenah diri, anak dilatih untuk kepekaan sosialnya. Kepribadian anak ditentukan ole faktor internal dan faktor eksternal, internal memang kecendrungan agresif atau hiper aktif. Kemudian faktor eksternal yaitu apa juga yang diterima dari lingkungan sebagai akibat sering melihat kekerasan yang bisa menjadi  inspirasi untuk akhirnya melakukan suatu penyelesaian masalah, bisa dari tontonan film , atau tontonan lawakan yang akhir-akhir ini isinya banyak saling ledek antara pelawak satu dengan yang lainya dan ini juga menjadi inspirasi untuk meledek temanya, atau bisa juga di dapat dari game. Hindarkan anak dengan tontonan kekerasan dan lawakan yang saling ejek mengejek dan game yang berbau kekerasan.

Dengan kita bekerja sama antara penyelenggara pendidikan, orang tua dan masyarakat semoga kasus meninggalnya siswa di sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman tidak akan terjadi baik di Jakarta maupun ditempat lain di seluruh Indonesia.

Tidak ada komentar: